UMKM Indonesia Dinilai Belum Melek Teknologi

UMKM Indonesia belum melek teknologi

Sulit mendapatkan modal usaha, UMKM Indonesia belum melek teknologi. Hal tersebut diungkap pada seminar nasional yang digelar di Semarang dengan tema ‘Kesiapan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan di Era Revolusi Industri 4.0’ pada 12 Maret 2019. Menteri perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi yang menjadi salah satu nara sumber seminar mengatakan “UMKM masih belum maksimal menggarap peluang digitalisasi. Hingga akhir 2018 baru 5% go digital,”.

 

Penyerapan Tenaga Kerja Oleh UMKM

Dalam seminar yang diselenggarakan di Hotel PO Semarang tersebut Budi Karya memaparkan bahwa sebenarnya UMKM di Indonesia sudah menyerap 96% tenaga kerja serta berkontribusi sebanyak 60% dalam produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian tambah Budi untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0 yang berbasis teknologi, maka dari jumlah penyerapan tersebut masih sangat perlu adanya pengembangan karena baru 5% UMKM yang go digital.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi bicara revolusi industri 4.0 di Indonesia. Menurutnya baru 5% UMKM di Indonesia yang go digital dan harus ditingkatkan untuk menghadapi era tersebut.

“UMKM masih belum maksimal menggarap peluang digitalisasi. Hingga akhir 2018 baru 5% go digital,” kata Budi.

Budi juga mencontohkan Korea Selatan yang sudah mencapai 99% penyerapannya dan mayoritas sudah melek teknologi digital. Dalam acara ini selain sebagai Menhub, Budi Karya hadir sebagai Ketua Koordinator Presidium Perhimpunan Perguruan Tinggi Negeri (Himpuni).

 

UMKM Masih Sulit Dapatkan Akses Pembiayaan

Turut menjadi narasumber dalam seminar tersebut adalah Triyono, Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital dan Pengembangan Keuangan Mikro Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  Triyono menyampakan data dari OJK bahwa sekitar 70% UMKM di Indonesia masih belum mendapatkan akses pembiayaan modal.

“Oleh karena butuh dukungan, di antaranya dengan bantuan biaya dengan pinjaman,” ujar Triyono. Seperti diketahui bahwa tahun lalu pemerintah sudah mengeluarkan regulasi terbaru yaitu Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) guna mendorong bantuan pembiayan bagi pelaku UMKM.

 

Minim Pendampingan, Penyebab UMKM Indonesia Belum Melek Teknologi

Pengamat ekonomi digital Yudi Chandra senada dengan Budi Karya memaparkan bahwa baru 5% UMKM yang go digital. lebih lanjut lagi Yudi yang juga CEO PT Duta Sukses Dunia memaparkan sampai akhir tahun 2018 ini jumlah usaha mikro tercatat sebanyak 58,91 juta unit, sedangkan usaha kecil 59.260 unit dan usaha besar 4.987unit.

Menurut Yudi kendala yang menyebab melambatnya pertumbuhan UMKM di Indonesia selain penguasaan teknologi adalah masalah akses pembiayaan, sumber daya manusia (SDM), dan kemampuan menembus pasar.

“Selain modal, UMKM kita terkendala masalah jaringan pasar. Itulah pentingnya UMKM melek media supaya mampu merambah pasar lebih luas,” ungkap Yudi di Jakarta.

Menurutnya juga kemudahan promosi yang bisa dilakukan di media berbasis online seperti media sosial (medsos) kurang bisa dimanfaatkan oleh sebagian besar pelaku UMKM.  Hal tersebut disebabkann minimnya pendampingan dari pemerintah untuk wawasan digitalisasi serta potensi media sosial sebagai sarana promosi.

 

Upaya Mengatasi UMKM Indonesia Belum Melek Teknologi

Kembali ke Kota Semarang, tepatnya di UTC Semarang, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) yang bernaung dibawah Kementerian Perindustrian menyelenggarakan acara e-Smart IKM (Industri Kecil Menengah).

Dirjen IKMA Gati Wibawaningsih mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi digital oleh UMKM di Indonesia memang masih minim dan tertinggal.

“Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam Making Indonesia 4.0 adalah UMKM yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi, melalui program ini, kami harap akan menjadi penghubung bagi IKM untuk belajar bagaimana menggunakan platform digital untuk meningkatkan daya saingnya,” ungkap Gati.

Padahal data APJII menyebutkan tahun 2017  pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,3 persen dari total penduduk Indonesia.

“Penetrasi penggunaan internet tersebut diharapkan juga dimanfaatkan untuk usaha-usaha produktif yang mendorong efisiensi dan perluasan akses seperti jual beli online,” tambah Gati.

Gati mengungkapkan program e-Smart IKM diluncurkan Kemenperin pada tahun 2017. Dalam perkembangannya hingga tahun 2018 sudah sebanyak 5.945 IKM dari seluruh Indonesia berpartisipasi dalam program tersebut dan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp. 1,3 miliar, atau naik 773 persen dari angka transaksi tahun sebelumnya yang hanya Rp 168 juta.

“Kami harap e-commerce menjadi gerbang bagi para pelaku IKM untuk melakukan transformasi digital. Setelah akses pasarnya diperluas melalui e-commerce, kemudian IKM akan membutuhkan promosi digital, sistem informasi digital, pembayaran digital, dan teknologi digital lainnya,” tutup gati. (Sumber Berita: Detik.com, Kontan.co.id)


Foto Cover Oleh: Nuh Rizki | Lisensi: Gratis Dan Boleh Modifikasi Tanpa Kredit

 

Bagikan info ini
Diskusikan